![]() |
| Sofyan bertugas sebagai MC dalam kegiatan MBA MAYA 2026 Unit Polokarto 2 di kantor Kepala Desa Ngunut. |
Di Balik Lensa dan Mikrofon: Dua Hari Perjalanan Sofyan dalam Program MBA MAYA 2026
Rabu pagi itu, 11 Februari 2027, udara masih terasa sejuk ketika Sofyan Yuli Antonius memeriksa ulang tas kerjanya. Kamera, baterai cadangan, kartu memori, tripod, hingga catatan rundown acara. Semuanya harus siap. Dua hari ke depan bukan sekadar kegiatan dokumentasi biasa. Ia ikut serta dalam program MBA MAYA 2026, membersamai para nasabah PNM di tiga wilayah: Polokarto 2, Karanganyar, dan Jaten.
“Kalau kita datang bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk membersamai, hasilnya pasti berbeda,” tutur Sofyan pelan, sebelum berangkat.
Lokasi pertama berada di Kantor Kepala Desa Ngunut, tempat Unit Polokarto 2 berkegiatan. Ruangan sederhana itu perlahan dipenuhi para nasabah PNM—para ibu tangguh dengan wajah penuh semangat. Sebagian membawa buku catatan kecil, sebagian lagi menggenggam ponsel untuk mengabadikan materi.
Sofyan tak hanya berdiri di balik kamera. Ia juga memegang mikrofon sebagai MC acara. Dengan suara yang hangat dan ritme yang tertata, ia membuka kegiatan. Ia memahami betul, suasana awal menentukan energi sepanjang acara.
![]() |
| Sofyan saat foto bersama Pemateri Sarmidi dan Sukesti. |
Pemateri Sarmidi dan Sukesti bergantian menyampaikan materi tentang pertanian rumah tangga dan pengelolaan perdagangan skala kecil. Sofyan sigap berpindah posisi—kadang mengambil gambar dari sisi kanan ruangan, kadang mendekat untuk menangkap ekspresi antusias peserta.
“Yang paling saya suka adalah melihat mata mereka berbinar saat merasa mendapatkan ilmu baru,” ungkapnya.
Hari berikutnya, Kamis, 12 Februari 2027, perjalanan berlanjut ke Kantor Kelurahan Popongan (Unit Karanganyar) dan Kantor Kelurahan Ngringo (Unit Jaten). Ritmenya padat, tetapi Sofyan sudah terbiasa dengan mobilitas tinggi.
Di setiap lokasi, ia melakukan dua peran sekaligus: mendokumentasikan setiap momen penting dan memandu jalannya acara. Tidak mudah menjaga fokus teknis kamera sambil memastikan suasana tetap hidup. Namun pengalaman sebagai penyiar radio dan MC profesional membuatnya luwes berpindah peran.
Di sela acara, ia sempat berbincang dengan beberapa nasabah. Ada yang baru merintis usaha sayur rumahan, ada yang mengembangkan warung kecil di depan rumah.
“Kalau usaha saya maju, saya ingin tambah modal lagi supaya bisa buka cabang kecil,” kata salah satu nasabah dengan mata penuh harap.
Kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat Sofyan merasa pekerjaannya lebih dari sekadar dokumentasi.
Setelah dua hari yang padat, Sofyan menuntaskan tanggung jawabnya. Foto dan video dokumentasi ia kirim melalui link laporan kegiatan. Data referal calon nasabah baru pun telah dilaporkan melalui link LPJ yang disediakan panitia.
Secara teknis, semua berjalan lancar. Tidak ada kendala berarti. Namun bagi Sofyan, capaian sesungguhnya bukan hanya kelengkapan laporan.
Ia melihat langsung bagaimana ilmu yang dibagikan memberi kepercayaan diri baru bagi para nasabah. Program ini bukan sekadar pertemuan, tetapi ruang tumbuh. Ruang belajar. Ruang harapan.
“Harapan saya sederhana,” katanya. “Semoga setelah kegiatan ini, penghasilan mereka meningkat. Kalau usaha berkembang, keluarga ikut sejahtera.”
Perjalanan di Polokarto, Karanganyar, dan Jaten menjadi pengingat bagi Sofyan tentang arti peran di balik layar. Kamera memang menangkap gambar, tetapi hati yang menangkap cerita.
Di balik setiap frame video, ada semangat ibu-ibu pejuang ekonomi keluarga. Di balik setiap sapaan pembuka sebagai MC, ada doa agar ilmu yang disampaikan benar-benar berdampak.
Bagi Sofyan, dua hari itu bukan hanya bagian dari jurnal aktivitas harian. Ia adalah potongan kisah tentang dedikasi, kolaborasi, dan harapan tentang bagaimana ilmu, dokumentasi, dan komunikasi bisa berjalan beriringan untuk menguatkan usaha kecil agar terus bertumbuh. (*)










