Minggu, 15 Maret 2026
Sore itu, langit Bulusulur tampak mendung diiringi hujan rintik ketika saya melaju menyusuri jalan utama menuju arah Ngadirojo. Lalu lintas tidak terlalu padat, tetapi suasana mulai terasa berbeda ketika mendekati lokasi Bulusulur. Beberapa kendaraan terparkir rapi di pinggir jalan, menandakan ada sesuatu yang sedang berlangsung.
Saya menghentikan langkah di depan Kedai Indah Pak Plenthux. Dari luar, kedai ini tampak sederhana, namun justru di situlah daya tariknya. Aroma masakan langsung menyapa begitu kaki melangkah masuk. Wangi bumbu yang dimasak dengan api besar seakan menjadi bahasa universal yang mengundang siapa saja untuk singgah.
Suasana di dalam kedai terasa hangat. Beberapa pengunjung tampak menikmati hidangan sambil bercengkerama. Di sudut dapur, aktivitas memasak berlangsung cepat namun teratur. Saya melihat langsung bagaimana nasi goreng diolah dengan teknik khas, suara wajan beradu dengan spatula menjadi ritme tersendiri yang memperkuat nuansa tradisional.
Saya kemudian berbincang dengan pemilik kedai, Mas Teguh. Dengan raut wajah ramah, ia menyampaikan konsep yang diusung kedai ini menghadirkan cita rasa Jawa yang dekat dengan keseharian masyarakat, namun tetap memiliki sentuhan khas. Dari percakapan itu, saya merasakan semangat sederhana menghadirkan rasa yang jujur, tanpa dibuat-buat.
Tak lama, saya menyempatkan diri mencicipi salah satu menu yang banyak dibicarakan, nasi goreng selimut. Sajian itu datang dalam kondisi hangat, dengan tampilan yang cukup menggugah selera. Saat suapan pertama, rasa gurihnya langsung terasa, berpadu dengan tekstur yang pas. Sederhana, namun meninggalkan kesan.
Di sela liputan, saya juga berbincang dengan salah satu tamu yang hadir, Suparno Parnaraya. Ia terlihat antusias melihat berkembangnya kuliner di Wonogiri. Dari penuturannya, saya menangkap satu hal penting bahwa kehadiran tempat seperti ini bukan sekadar soal makanan, tetapi juga tentang pilihan dan pengalaman baru bagi masyarakat.
Menjelang malam, suasana kedai semakin ramai. Lampu-lampu mulai menyala, menciptakan nuansa hangat yang terasa akrab. Saya berdiri sejenak, memperhatikan aktivitas di sekitar pengunjung datang silih berganti, pesanan terus mengalir, dan dapur tak pernah benar-benar berhenti.
Perjalanan liputan hari itu memberi saya satu kesan mendalam. Di tengah berkembangnya dunia kuliner modern, tempat seperti Kedai Indah Pak Plenthux justru menghadirkan sesuatu yang sederhana namun bermakna rasa, suasana, dan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Wonogiri.
Dan dari sanalah, sebuah berita tidak hanya saya tulis, tetapi juga saya rasakan. (*)








