Sofyan Yuli Antonius - Jurnalis dan Praktisi Komunikasi
  • Home
  • Motivasi Diri
  • Event
  • Majalah
  • Podcast
  • Biodata
Sofyan bertugas sebagai MC dalam kegiatan MBA MAYA 2026 Unit Polokarto 2 di kantor Kepala Desa Ngunut.


Di Balik Lensa dan Mikrofon: Dua Hari Perjalanan Sofyan dalam Program MBA MAYA 2026

Rabu pagi itu, 11 Februari 2027, udara masih terasa sejuk ketika Sofyan Yuli Antonius memeriksa ulang tas kerjanya. Kamera, baterai cadangan, kartu memori, tripod, hingga catatan rundown acara. Semuanya harus siap. Dua hari ke depan bukan sekadar kegiatan dokumentasi biasa. Ia ikut serta dalam program MBA MAYA 2026, membersamai para nasabah PNM di tiga wilayah: Polokarto 2, Karanganyar, dan Jaten.

“Kalau kita datang bukan hanya untuk bekerja, tapi untuk membersamai, hasilnya pasti berbeda,” tutur Sofyan pelan, sebelum berangkat.

Lokasi pertama berada di Kantor Kepala Desa Ngunut, tempat Unit Polokarto 2 berkegiatan. Ruangan sederhana itu perlahan dipenuhi para nasabah PNM—para ibu tangguh dengan wajah penuh semangat. Sebagian membawa buku catatan kecil, sebagian lagi menggenggam ponsel untuk mengabadikan materi.

Sofyan tak hanya berdiri di balik kamera. Ia juga memegang mikrofon sebagai MC acara. Dengan suara yang hangat dan ritme yang tertata, ia membuka kegiatan. Ia memahami betul, suasana awal menentukan energi sepanjang acara.

Sofyan saat foto bersama Pemateri Sarmidi dan Sukesti.


Pemateri Sarmidi dan Sukesti bergantian menyampaikan materi tentang pertanian rumah tangga dan pengelolaan perdagangan skala kecil. Sofyan sigap berpindah posisi—kadang mengambil gambar dari sisi kanan ruangan, kadang mendekat untuk menangkap ekspresi antusias peserta.

“Yang paling saya suka adalah melihat mata mereka berbinar saat merasa mendapatkan ilmu baru,” ungkapnya.

Hari berikutnya, Kamis, 12 Februari 2027, perjalanan berlanjut ke Kantor Kelurahan Popongan (Unit Karanganyar) dan Kantor Kelurahan Ngringo (Unit Jaten). Ritmenya padat, tetapi Sofyan sudah terbiasa dengan mobilitas tinggi.

Di setiap lokasi, ia melakukan dua peran sekaligus: mendokumentasikan setiap momen penting dan memandu jalannya acara. Tidak mudah menjaga fokus teknis kamera sambil memastikan suasana tetap hidup. Namun pengalaman sebagai penyiar radio dan MC profesional membuatnya luwes berpindah peran.

Di sela acara, ia sempat berbincang dengan beberapa nasabah. Ada yang baru merintis usaha sayur rumahan, ada yang mengembangkan warung kecil di depan rumah.

“Kalau usaha saya maju, saya ingin tambah modal lagi supaya bisa buka cabang kecil,” kata salah satu nasabah dengan mata penuh harap.

Kalimat-kalimat seperti itulah yang membuat Sofyan merasa pekerjaannya lebih dari sekadar dokumentasi.

Setelah dua hari yang padat, Sofyan menuntaskan tanggung jawabnya. Foto dan video dokumentasi ia kirim melalui link laporan kegiatan. Data referal calon nasabah baru pun telah dilaporkan melalui link LPJ yang disediakan panitia.

Secara teknis, semua berjalan lancar. Tidak ada kendala berarti. Namun bagi Sofyan, capaian sesungguhnya bukan hanya kelengkapan laporan.

Ia melihat langsung bagaimana ilmu yang dibagikan memberi kepercayaan diri baru bagi para nasabah. Program ini bukan sekadar pertemuan, tetapi ruang tumbuh. Ruang belajar. Ruang harapan.

“Harapan saya sederhana,” katanya. “Semoga setelah kegiatan ini, penghasilan mereka meningkat. Kalau usaha berkembang, keluarga ikut sejahtera.”

Perjalanan di Polokarto, Karanganyar, dan Jaten menjadi pengingat bagi Sofyan tentang arti peran di balik layar. Kamera memang menangkap gambar, tetapi hati yang menangkap cerita.

Di balik setiap frame video, ada semangat ibu-ibu pejuang ekonomi keluarga. Di balik setiap sapaan pembuka sebagai MC, ada doa agar ilmu yang disampaikan benar-benar berdampak.

Bagi Sofyan, dua hari itu bukan hanya bagian dari jurnal aktivitas harian. Ia adalah potongan kisah tentang dedikasi, kolaborasi, dan harapan tentang bagaimana ilmu, dokumentasi, dan komunikasi bisa berjalan beriringan untuk menguatkan usaha kecil agar terus bertumbuh. (*)

Aksi Danar Superhero Gatutkaca saat mendongeng Nabi Nuh.


Selasa, 17 Februari 2026, Sofyan Yuli Antonius sudah bersiap sejak awal hari. Sebuah pesan undangan liputan dari Danar Superhero membuatnya bersemangat. Ada aksi unik yang akan digelar di obyek wisata Batu Seribu: literasi, dongeng, hingga berbagi nasi berkat dan jamu dalam balutan kostum Gatutkaca. Bagi Sofyan, ini bukan sekadar liputan ini cerita yang layak diabadikan.

Perjalanan menuju Batu Seribu tidak mudah. Jalanan pegunungan naik turun menyambutnya dengan udara lembap sisa hujan. Beberapa titik terasa licin. Motor yang ia kendarai harus melambat, menyesuaikan medan. Di tengah perjalanan, ia sempat menarik napas panjang. “Perjuangan menuju lokasi selalu punya ceritanya sendiri,” gumamnya dalam hati. Namun justru di situlah letak romantika profesi yang ia cintai.

Sesampainya di lokasi, suasana padusan menyambut datangnya Ramadan terasa hidup. Pengunjung berdatangan, anak-anak berlarian, suara tawa bercampur gemericik air. Di tengah keramaian itu, sosok Danar Superhero Gatutkaca tampil mencolok. Dengan penuh ekspresi, ia mendongeng kisah Nabi Nuh. Anak-anak duduk melingkar, mata mereka berbinar, seolah sedang menonton pertunjukan besar.

Sofyan mengamati setiap detail. Ia mengambil dokumentasi, mencatat momen, lalu mendekat untuk melakukan wawancara. Danar berbicara tentang misi literasi dan berbagi kebahagiaan menjelang Ramadan. Tak lama kemudian, Sofyan juga berbincang dengan Plt Kepala Disporapar Kabupaten Sukoharjo, Herdis Kurnia Wijaya, yang menyampaikan dukungan terhadap kegiatan kreatif di destinasi wisata.


Yang membuat hati Sofyan hangat bukan hanya dongengnya, tetapi aksi berbagi itu sendiri. Nasi berkat yang dibungkus daun jati dibagikan kepada para pengunjung. Ada juga jamu yang disajikan dengan sederhana. Tradisi, budaya, literasi, dan kepedulian menyatu dalam satu peristiwa.

Menjelang sore, hujan kembali turun. Rintiknya perlahan berubah deras. Namun liputan harus tuntas. Sofyan memastikan semua data lengkap, kutipan narasumber akurat, dan suasana tergambar utuh. Baginya, pembaca majalahlarise.com berhak mendapatkan cerita terbaik.

Sore itu, setelah kembali dari medan pegunungan yang kembali licin karena hujan, ia langsung menulis. Kata demi kata dirangkai dengan hati. Tepat pukul 18.00 WIB, berita itu terbit. Ia menatap layar sejenak, merasa lega sekaligus bangga.

“Semoga tulisan ini bukan hanya menjadi berita, tetapi juga kenangan tentang cara sederhana menyambut Ramadan dengan literasi dan berbagi,” batinnya.

Di balik setiap berita yang terbit, selalu ada perjalanan. Dan bagi Sofyan, perjalanan ke Batu Seribu hari itu bukan sekadar tugas jurnalistik. Ia adalah kisah tentang dedikasi, tentang menembus hujan dan jalanan terjal, demi menghadirkan cerita yang menginspirasi. (*)


Berita hasil liputan: Literasi Superhero di Batu Seribu, Dongeng Nabi Nuh hingga Gunungan Sego Berkat Semarakkan Tradisi Padusan Sukoharjo



Di Balik Secangkir Teh Hangat, Sofyan Menyemai Kolaborasi

Sabtu pagi, 14 Februari 2026, Sofyan Yuli Antonius melangkah menuju Rumah Makan Alami Sayang, Ngadirojo, dengan satu tujuan sederhana: meliput Seminar dan Sosialisasi Program Pascasarjana S2 Universitas Widya Dharma Klaten.

Undangan yang ia terima melalui grup WhatsApp dari admin Rumah Kreatif terasa seperti panggilan tugas sekaligus peluang. Bagi Sofyan, setiap agenda pendidikan selalu menyimpan cerita yang layak disampaikan kepada publik.

Suasana rumah makan terasa hangat. Deretan kursi mulai terisi para guru, ASN, dan pegiat pendidikan yang ingin mengetahui peluang studi lanjut. Di depan ruangan, Rektor Universitas Widya Dharma Klaten, Prof. Dr. Triyono, memaparkan komitmen kampus dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi para pendidik yang ingin melanjutkan studi. Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi daerah,” ujar Prof. Triyono di hadapan peserta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Sriyanto, turut memberikan pandangan. Ia menyampaikan pentingnya kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah dalam mendorong peningkatan kompetensi guru.

“Guru perlu terus bertumbuh. Ketika guru meningkat kualitasnya, maka kualitas pendidikan di daerah juga ikut terangkat,” tuturnya.

Sofyan duduk sambil mencatat, namun sesekali ia mengangkat wajah, menangkap ekspresi antusias para peserta. Ia tidak hanya merekam fakta, tetapi juga merasakan semangat yang tumbuh di ruangan itu.

Di sela acara, ia berbincang ringan dengan pihak kampus. Percakapan mengalir tentang peran media dalam mendukung publikasi kegiatan pendidikan. Sofyan pun menyampaikan harapannya.

“Kami di majalahlarise.com ingin menjadi mitra strategis kampus dalam menyampaikan informasi kegiatan akademik kepada masyarakat. Sinergi ini penting agar publik mendapatkan akses informasi pendidikan yang berkualitas,” ucapnya.

Obrolan itu berlanjut hingga pertukaran nomor kontak rektor dan humas kampus. Tidak ada seremoni khusus, hanya jabat tangan hangat dan komitmen untuk tetap terhubung.

Menjelang siang, ketika acara usai, Sofyan menutup buku catatannya dengan perasaan optimistis.

“Kadang hasil liputan bukan hanya berita yang terbit, tetapi relasi yang terbangun. Dari sinilah kerja sama bisa bertumbuh,” katanya pelan.

Hari itu, di Ngadirojo, ia tidak sekadar menghadiri seminar. Ia sedang merawat jejaring, membuka peluang kolaborasi, dan meneguhkan peran media sebagai jembatan antara kampus dan masyarakat. (*)

Obat Nyeri Otot Rp10 Ribu


Jurnal Sofyan- Sudah satu Minggu lebih berlalu, ternyata sakit pada lutut akibat terjatuh mengendarai motor masih terasa. Cenut-cenut rasanya tidak tertahan. Memang, sejak jatuh hanya saya obati minum parasetamol obat pereda nyeri. Setelah reaksi obat habis rasa ngilu kumat lagi. Berhari-hari lamanya. Buatkan jalan aja kaki kiri ini seperti berat rasanya. Sebenarnya bisa sembuh segera kalau digunakan untuk istirahat. Tapi apa daya, karena tuntutan aktifitas dan kerja tidak memungkinkan untuk istirahat. Terlebih sewaktu Simbah Norjo meninggal dunia, Sabtu (1/11/2025) dari rumah duka sampai tempat penyemayaman harus jalan kaki. Walau terasa agak sakit terus saja berjalan kaki. 

Senin pagi, perjalanan ke Univet saya berhenti sejenak di apotik Sukoharjo beli obat nyeri otot dan sendi untuk kaki seharga Rp. 10 ribu ada empat jenis obat yang diberikan oleh apoteker. "Diminum sehari dua kali. Bisa pagi malam," terang apoteker.

Sampai di Univet, langsung menuju ke ruang Humas dan Kerjasama bertemu dengan mas Ivan. Perbincangan cukup lama dan membuahkan beberapa kesepakatan.

Usai urusan di Univet Bantara selesai, saya mampir di warung makan tahu kupat selatan Proliman Sukoharjo. Lumayan rasanya enak dan sudah beberapa saat tidak makan di sini. Harganya cukup terjangkau hanya Rp. 10 ribu saja sudah bikin perut kenyang. Selesai makan, langsung saja obatnya saya minum menggunakan air mineral yang diberi mas Ivan Humas Univet. 

Waktu sholat Luhur tiba, setelah selesai makan dan minum obat lanjut ke masjid Agung Sukoharjo menunaikan kewajiban sholat luhur. Karena di dalam masjid udaranya segar dan dingin ber AC terasa nyaman melakukan ibadah sholat. Udara di luar masjid bergitu panas akhirnya saya istirahat tiduran di teras masjid bersama jamaah lainnya. Terlelap sudah tidak mendengar apapun sepertinya juga bermimpi hidup di masjid yang lainnya berjumpa teman-teman. Setelah bangun ternyata masih di masjid Agung Sukoharjo.

Melihat kondisi handphone lowbat hanya tersisa daya 7 bergegas mencari colokan cas listrik untuk mengisi daya baterai handphone. Tulisan ini ditulis bersamaan saat mengisi daya dan jam menunjukkan pukul 14.07 WIB. 

Sekalian menulis, saya merasakan kaki kiri sudah agak mendingan tidak begitu sakit. Reaksi obat yang saya minum tadi aktif. Berharap semoga tidak ada rasa sakit lagi datang. Lekas sembuh dan bisa beraktifitas seperti sedia kala. 




Menyemai Harapan di Kepuhsari, Catatan Perjalanan dari Balik Pelatihan Leadership, Public Speaking Branding Produk Lokal

Oleh: Sofyan Yuli Antonius


Selasa, 8 Juli 2025. Pagi itu, sinar matahari menyapu hangat perbukitan Manyaran. Desa Kepuhsari terlihat begitu bersahaja namun penuh harapan. Sebagai seorang narasumber, saya datang bukan hanya untuk berbagi ilmu, tapi juga menyerap semangat dari wajah-wajah yang antusias ingin berubah, ingin maju, ingin dikenal dunia lewat produk lokalnya.

Saya mendapat kehormatan menjadi pembicara di hari pertama pelatihan “Branding dan Marketing Produk Lokal” yang digelar oleh Kementerian Sosial RI melalui BBPPKS Yogyakarta. Tema yang saya bawakan adalah "Leadership dan Public Speaking untuk Branding Produk Lokal."

Di dalam ruangan pelatihan yang sederhana namun hangat, saya melihat ibu-ibu dan bapak-bapak yang menjalankan usaha dibidang perajin wayang, peternak kambing, pemuda pengelola kelompok wisata, hingga pelaku UMKM kuliner duduk menyimak, sesekali mencatat, sesekali mengangguk pelan. Bagi saya, ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah momentum kebangkitan.

Saya mulai dengan sebuah pertanyaan, “Siapa pemimpin di desa ini?” Hampir semua peserta spontan menunjuk kepala desa. Saya senyum, lalu melanjutkan, “Boleh saya koreksi? Pemimpin di desa ini adalah Bapak dan Ibu semua. Karena yang memegang keputusan untuk bangkit atau diam, itu ada di tangan kita masing-masing.”

Kepemimpinan, saya jelaskan, bukan tentang jabatan, tapi tentang pengaruh dan tindakan. Seorang ibu yang memilih memasarkan kerajinan bambunya secara digital, itu adalah pemimpin. Seorang peternak yang memutuskan untuk membuat branding “Sapi Kepuhsari”, itu adalah pemimpin.

Lalu saya masuk ke materi public speaking. Banyak peserta tertawa kecil saat saya ajak praktik berbicara di depan. “Ngomong saja masih malu, apalagi promosi,” celetuk seorang ibu sambil tertawa. Tapi itulah tantangan terbesar. Branding produk lokal dimulai dari keberanian berbicara tentang produk kita sendiri.

Saya katakan pada mereka, “Jika kita tidak bisa menyampaikan keunggulan produk kita dengan percaya diri, bagaimana orang bisa percaya?” Saya ajarkan teknik vokal dasar, gestur, hingga bagaimana menyampaikan cerita produk dengan gaya narasi. Salah satu bapak bahkan mencoba memperkenalkan “Wisata Kepuhsari” di depan peserta. Terdengar polos, tapi penuh semangat. Dan di situlah saya tahu, prosesnya mulai berjalan.

Sebelum pelatihan digelar, saya menyimak sambutan-sambutan dari para tokoh. Pak Suminto, selaku ketua pelaksana, dengan jujur menyampaikan betapa pelatihan ini adalah tindak lanjut serius dari program nasional pengentasan kemiskinan ekstrem. Ada harapan besar yang disematkan pada desa ini.

Bu Lestari dari Dinas Sosial menyebut bahwa program ini akan jadi ujian nyata, apakah warga desa mampu bangkit bukan hanya dari keterbatasan ekonomi, tapi juga dari kemiskinan cara berpikir?

Pak Camat Toto Tri Mulyarto pun memberi semangat yang menyentuh: “Ternyata ternak sapi pun bisa menjadi brand desa.” Sementara Pak Kades Sularjo mengajak warganya bersatu hati “Desa kita tidak boleh hanya menunggu bantuan. Kita harus mandiri, kita harus bergerak.”

Hari pertama ini hanya awal. Masih ada tiga hari pelatihan ke depan dengan materi yang lebih teknis: desain branding, pemasaran digital, manajemen usaha. Tapi saya yakin, pondasi penting sudah mulai dibangun hari ini: kesadaran, keberanian, dan kemauan untuk berubah.

Sebagai narasumber, saya belajar bahwa berbicara di depan orang desa bukan berarti harus merendahkan standar, tapi justru menaikkan martabat mereka sebagai pelaku perubahan. Saya tidak merasa sedang mengajar, tapi sedang berbagi semangat yang sudah lama ada dan hanya butuh disentuh agar menyala kembali.

Kepuhsari bukan hanya nama sebuah desa di pinggir perbukitan Wonogiri. Kepuhsari adalah cermin banyak desa di Indonesia yang punya potensi luar biasa, tapi tertutup kabut ketidakpercayaan diri. Dan pelatihan ini adalah secercah cahaya yang mulai menembus kabut itu.

Saya pulang hari itu dengan hati yang penuh. Penuh rasa syukur, bahwa saya bisa ikut sedikit saja menyumbang semangat. Bahwa lewat suara, kata, dan cerita saya ikut menemani perjalanan panjang warga desa untuk berani tampil dan menyuarakan keunggulan mereka sendiri.

"Karena perubahan tidak akan pernah datang dari luar, jika dari dalam kita tidak pernah percaya bahwa kita layak untuk maju."


Ilustrasi


Jejak Panas di Malam Api Unggun, Kisah di Balik Liputan KMD Pramuka Wonogiri 2025 

Wonogiri, Jumat malam 27 Juni 2025 -Langit malam itu bertabur bintang, udara pegunungan Umbul Nogo Manyaran begitu sejuk menusuk kulit. Suara riang para pembina Pramuka yang sedang bersiap mengikuti malam api unggun begitu menggugah semangat. Sebagai jurnalis dan penyiar, saya datang untuk meliput momen penuh makna dari rangkaian Kursus Mahir Dasar (KMD) Pramuka Wonogiri 2025.

Namun siapa sangka, malam yang seharusnya penuh kehangatan itu menjadi kisah perjalanan yang tak akan pernah saya lupakan bukan hanya karena kobaran api unggun, tetapi karena rasa panas yang menyengat di kaki saya.

Semua bermula ketika saya bergerak mendekati barisan peserta untuk mengambil gambar dan merekam suasana dari dekat. Di tengah keramaian, saya merasa ada sesuatu menggigit bagian bawah pergelangan kaki. Awalnya saya kira hanya gigitan nyamuk biasa, tapi tak lama kemudian rasa panas menyebar, seperti terbakar dari dalam kulit. Kaki saya seperti terbakar api yang tak kasat mata.

Dengan tertatih, saya mencari petugas kesehatan. Rasa nyeri semakin hebat, membuat langkah terasa berat. Saya hanya bisa berharap bahwa ini bukanlah sesuatu yang serius.

Petugas kesehatan dengan sigap memberi obat pereda nyeri, menyemprotkan cairan anti-nyeri, dan mengoleskan salep khusus agar bengkaknya tidak memburuk. “Kemungkinan digigit serangga atau semacamnya, Mas,” ucap salah satu petugas sambil terus memastikan kondisi saya.

Tapi malam itu tak seperti biasanya. Saya terus merasakan panas menjalar ke sekujur kaki bagian bawah. Meskipun liputan tetap saya selesaikan dengan semangat yang tertahan-tahan oleh rasa nyeri, hati saya berusaha kuat. Saya tahu, setiap tugas jurnalistik kadang membawa risiko yang tak terduga dan malam ini saya mengalaminya secara nyata.

Saat pulang ke rumah, tubuh terasa lelah luar biasa, tapi panas di kaki jauh lebih membakar daripada kelelahan itu sendiri. Saya tidak bisa tidur. Saya hanya bisa berbaring, memejamkan mata yang tak benar-benar bisa tertidur, berharap nyeri ini segera reda.

Dan pagi pun tiba.

Matahari belum sepenuhnya muncul ketika saya menyadari sesuatu yang begitu saya syukuri rasa panas mulai mereda. Meski belum sepenuhnya hilang, setidaknya rasa sakitnya sudah tidak seintens malam tadi. Saya menarik napas panjang, mengucap syukur Alhamdulillah, pagi ini lebih baik.

Perjalanan ini meninggalkan jejak yang bukan hanya luka di kulit, tapi juga kesan mendalam dalam jiwa. Di balik sorotan kamera dan catatan liputan, ada sisi lain dari profesi ini yang sering kali tak terlihat perjuangan dalam diam, ketabahan saat terluka, dan keyakinan bahwa setiap pengalaman, meski pahit, akan memperkaya jiwa.

Dan bagi saya, Jumat malam itu bukan sekadar malam api unggun. Ia adalah malam ujian dan keteguhan hati, saat seorang jurnalis harus tetap berdiri meski panas membakar kaki, demi menyampaikan kisah kepada para pembaca dan pemirsa. (Sofyan)


Saya berada di Auditorium tempat berlangsungnya Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-45 atau Lustrum ke-IX digelar.


Dua Dunia, Satu Semangat Catatan Jurnalistik di Balik Liputan Lustrum ke-IX UNISRI dan Art Sura 2025


Oleh: Sofyan Yuli Antonius

Jurnalis majalahlarise.com


Sabtu, 21 Juni 2025 menjadi hari yang tak terlupakan dalam perjalanan jurnalistik saya. Dalam satu hari, saya menjelajahi dua dunia berbeda yang sama-sama berdenyut di jantung Kota Solo: dunia akademik yang penuh gagasan transformatif dan dunia seni yang penuh ekspresi kreatif.Keduanya bertemu dalam satu benang merah  semangat perubahan dan kebanggaan terhadap jati diri bangsa.

UNISRI Surakarta Menyemai Transformasi dari Kampus ke Dunia

Pagi itu, saya tiba lebih awal di Kampus Universitas Slamet Riyadi (UNISRI), Surakarta. Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-45 atau Lustrum ke-IX digelar dengan khidmat. Tema yang diangkat, “Transformasi Tata Kelola Menuju Perguruan Tinggi yang Berdaya Saing Global”, mencerminkan tekad UNISRI untuk terus melangkah maju di tengah dinamika global.

Momen paling berkesan adalah saat Prof. Dr. Mahfud MD menyampaikan orasi ilmiahnya. Sosok negarawan itu berbicara tidak hanya dengan data dan teori, tetapi dengan semangat kebangsaan yang menggetarkan hati. Ia menegaskan pentingnya keberanian kampus untuk berinovasi dan menjadi pusat solusi atas problematika bangsa.

Saya mencatat banyak kutipan penting, merekam suasana ruang sidang, dan berbincang dengan beberapa mahasiswa. Semangat mereka luar biasa. Di balik toga dan prosesi, saya menemukan wajah-wajah harapan masa depan Indonesia.

Saya mengabadikan lewat foto saat Walikota Surakarta Astrid Widayani menoreh warna pada gambar matahari logo ART SURA 2025.


Art Sura 2025 Ketika Seni, Teknologi, dan Kota Berpadu

Usai liputan di UNISRI, saya bergegas menuju Taman Balekambang, tempat diselenggarakannya Art Sura 2025. Dari suasana formal akademik, saya langsung disambut atmosfer yang lebih bebas dan penuh warna.

Ajang seni rupa dan teknologi ini dibuka secara resmi oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang menyampaikan pesan penting tentang peran seni dalam membentuk ekosistem kota yang kreatif dan humanis. Ia menyebut Art Sura sebagai “ruang pertemuan antara tradisi, inovasi, dan generasi masa depan.”

Saya terpukau dengan instalasi seni interaktif, pameran multimedia, serta semangat para seniman muda yang hadir. Beberapa di antaranya menggabungkan kecerdasan buatan dalam karya mereka, menjadikan seni tidak hanya sebagai ekspresi, tetapi juga eksplorasi teknologi.

Mengabadikan momen Prof. Dr. Moh. Mahfud MD saat menyampaikan orasi.


Menyatukan Dua Cerita: Solo yang Bertransformasi

Hari itu, saya merasa tidak hanya menjadi peliput berita, tetapi juga saksi dari dua energi besar yang sedang tumbuh di Solo. UNISRI membuktikan pendidikan tinggi Indonesia siap bertransformasi, sementara Art Sura menunjukkan bahwa kota ini memiliki denyut seni yang kuat dan relevan dengan zaman.

Saya menutup perjalanan liputan hari itu dengan rasa syukur. Dua acara, dua dunia, satu semangat yang sama yaitu membangun Indonesia dari kampus dan dari ruang kreatif.

Sebagai jurnalis, saya percaya tugas saya bukan hanya melaporkan, tetapi juga merawat ingatan kolektif kita atas peristiwa penting yang membentuk arah bangsa. Dan hari itu, Sabtu di bulan Juni, menjadi bagian dari cerita besar itu.


Catatan Jurnalistik:

Liputan ini menjadi pengingat perubahan tidak harus datang dari pusat kekuasaan. Ia bisa lahir dari ruang kelas, dari studio seni, dari kampus lokal, hingga taman kota. Asal kita bersedia mendengar, mencatat, dan menyebarkannya.

Postingan Lama Beranda

Larise Radio Link

  • Larise Radio Link





Tentang Jurnal Sofyan

Jurnal Sofyan merupakan blog milik Sofyan Yuli Antonius bertujuan mendokumentasikan karya tulisan artikel berupa gagasan atau pemikiran bahkan ide untuk pengembangan potensi diri. Diharapkan para pengunjung blog mendapatkan manfaat diantaranya menambah wawasan, inspirasi serta motivasi diri. Selain itu, blog ini menghadirkan rekam jejak kisah peristiwa menarik yang dialami Sofyan Yuli Antonius. Contact: Sofyan Yuli Antonius, Email: jurnalsofyan@gmail.com

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Liputan Sofyan: Perjuangan Menuju Batu Seribu Saksikan Aksi Literasi Danar Superhero Gatutkaca
  • Di Balik Secangkir Teh Hangat, Sofyan Menyemai Kolaborasi
  • Biodata Sofyan Yuli Antonius
  • Misteri Tak Pernah Terpecahkan
  • Hati Menentukan Sifat, Sikap dan Perbuatan
  • Obat Nyeri Otot Rp10 Ribu yang Membuat Kaki Kiri Kembali Ringan Melangkah
  • Cara Allah Indah Menegur Hamba-Nya
  • Selamat Jalan Bapak Suharno, Tulisanmu Motivasi Hidupku
  • Selamat Hari Pers Nasional 2021
  • Di Balik Lensa dan Mikrofon: Dua Hari Perjalanan Sofyan dalam Program MBA MAYA 2026

Categories

  • Biodata 1
  • Event 53
  • Motivasi Diri 100

Advertisement

Copyright © Sofyan Yuli Antonius - Jurnalis dan Praktisi Komunikasi. Designed by OddThemes